Survei Apakah Sertifikasi Ulama Perlu, 93 Persen Setuju Selebihnya Gak Perlu

  • Share
banner 400x130
Ilustrasi, foto ulama di Indonesia : Foto by antara

UJARANCOM – Penggiat sosial media, Denny Siregar membuat polling terhadap pertanyaan apakah perlu atau tidak perlu adanya sertifikasi bagi pendakwah/ulama di Indonesia.

Polling atau survei tersebut dilakukan melalui cuitan akun twitter Denny. Guna merespon adanya isu sertifikasi ulama atau dai di nusantara.

banner 336x280

“Setujukah kalau @Kemenag_RI atau @MUIPusat mulai menerapkan sertifikasi untuk penceramah agama Islam supaya tidak banyak korban orang awam dari ustad radikal ?,” Tulis Denny. Kamis (1/4/21).

Baca Juga  Siapa Saja Pejabat Baru Pangdam Hasanuddin? Kenalan Yuk

Survei tersebut di isi sebanyak, 10.548 voter. Dan hasilnya mayoritas setuju atas adanya sertifikasi ulama. 93% setuju adanya sertifikasi dan 7 % mengatakan gak perlu.

Sebelumnya, dilansir ujaran dari bbc. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mencoba menyediakan ulama-ulama berkualitas dan nonradikal yang dianggap pantas berdakwah melalui program standarisasi dai atau dengan sebutan lain sertifikasi ulama.

MUI mencoba menyamakan persepsi para dai dan “menyatukan langkah-langkah dakwah” mereka dengan program tersebut.

Baca Juga  Jokowi Akan Cek Gaya Baru Cegah Covid-19 Yang Dimulai Di Makassar

Menurutnya informasi yang diperoleh, lembaga tersebut berkaca pada Malaysia dan Brunei yang disebut telah menerapkan sistem serupa, dengan memberikan “sertifikat negara” kepada para pendakwah sebelum mereka terjun ke tengah masyarakat.

“Di kita (bisa berdakwah) sebebas-bebasnya. Tapi kan celakanya, bacaan Quran aja belum bisa, menulis Quran juga belum bisa, agama belum bisa, tapi jadi penceramah,” kata Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, M. Cholil Nafis, kepada BBC News Indonesia, Rabu (20/11/19) lalu.

Baca Juga  Kabaintelkam Polri dan Polda Sulsel Datangi Asrama Mahasiswa Papua di Makassar

“Yang kita tidak mau adalah radikalisme ke terorisme, mengarah kepada destruksi, lalu membenci pada beda agama, membenci kepada berbeda pendapat,” kata Cholil.

Ia berharap para ulama yang mengikuti sertifikasi akan memiliki “keseimbangan, tidak ekstrem kanan, tidak ekstrem kiri, tidak radikalisme, juga tidak liberalisme”.

Hingga berita ini terbitkan, berbagai pro dan kontra terjadi di masyarakat terkait adanya isu tersebut.

Penulis : Yayanouht

  • Share

Leave a Reply